News PKS PIYUNGAN :
Home » » Metamorfosis Cinta Ananda

Metamorfosis Cinta Ananda

Written By harun kurniawan on Sabtu, 04 Oktober 2014 | 07.47.00


Mentari mengintip dari peraduannya, agak bersembunyi karena bulan belum juga tenggelam dari tempatnya. Hari itu, burung-burung ribut bernyanyi dari satu pohon ke pohon yang lain. Embun pagi, belum sempurna kering. Angin sesekali memainkan rerumpuntan, mengajak bergoyang. Pagi yang cerah, hari yang indah. Dan seluruh alam bertasbih kepada Tuhan Semesta Alam dengan bahasanya sendiri. Kurang lebih jam 4 pagi, sejak ayam gaduh berkokok saling sahut menyahut. Seolah tak ingin kalah dengan ayam yang lain, aku bangun menjalani segala rutinitasku. Sepagi ini aku tidak mau kalah dengan semesta yang telah sibuk bertasbih, akupun rukuk dan sujud kepada Allah. Tahajud. Usai tahajud, aku lanjutkan dengan tilawah sambil menunggu kumandang adzan subuh diperdengarkan.

Yah… pagi ini hamper sama dengan pagi-pagi yang lain. Usai sholat subuh aku harus segera bersiap ke sekolah. Sekolah yang dengan sadar aku pilih untuk memenuhi wasiat ayahku kepada ibu sebelum beliau menghadap Allah dengan tersenyum. MAN 1 Surakarta. Tempat yang selama 1 tahun lebih aku pilih untuk menimba ilmu, disana setidaknya aku mendapat ilmu umum dan ilmu agama. Walaupun biasanya sekolah hanya menjadi second choise, tetapi dengan bangga aku memilihnya sebagai pilihan pertama. Setiap hari kurang lebih 1 jam perjalanan harus aku tempuh dengan jalan kaki sampai jalan besar dan naik bus setelah sampai joglo dilanjutkan jalan kaki.
Aku beruntung, tetanggaku sekaligus teman baikku juga bersekolah disana. Dikelas yang sama, dan berada satu meja denganku. Ah… subuh cepat sekali berlalu. Setelah sholat dimushola depan rumah, aku bersiap beragkat ke sekolah. Mengenakan baju putih, rok abu-abu, jilbab putih dtandart cukup untuk menutupi  lekuk tubuhku. Walaupun memang tidak lebar. Dan setidaknya aku telah berazam untuk menutup aurotku, yang entah sempurna atau tidak.
“Ananda… sudah ditunggu Fyna…” Panggil ibuku.
“iya bu… sebentar…” jawabku dari balik pintu kamar.
Fyna, dialah tetangga sekaligus sahabatku. Ya… sahabat. Kami sangat dekat karena kami memiliki nasib yang sama. Kami pun saling melengkapi dan mengisi, saling menghibur dan saling berkasih sayang. Aku cukup bersyukur atas hidupku yang Tuhan berikan.
“ayo Fin…”. Ajakkku kepada Fyna yang sudah menunggu diluar. Setelah cium tangan ibu, minum susu dan mengambil tempat makan yang berisi roti.
“bu… Nanda berangkat… Assalamu’alaikum” teriakku saat akan keluar.
Dalam perjalanan di bus, aku berharap mendapatkan tempat duduk agar bias menikmati sarapanku. Pagi ini sangat cerah. Gunung Lawu yang menjadi tempat mentari mengintip, tergambar indah di sebelah timur. Gunung Merapi dan Merbabu bergandengan di sebelah barat persis seperti gambar anak-anak yang biasanya disuruk melukis gunung. Dua gunung dengan hamparan sawah. Aku selalu menikmati perjalananku ke sekolah.
Pagi ini beruntung sekali karena ternyata kami berangkat agak pagi, bis belum penuh sesak. Kami duduk berdua dibelakang supir mini bis karno putra.
“Ayo fin sarapan” kataku sambil memberi roti yang ada di tempat makan kepada Fyna dengan logat Jakarta kental. Iya logat Jakarta, aku dilahirkan di Depok, hingga sebuah kejadian yang memaksaku pindah ke desa yang mulai berkembang ini.
“Eh iya Nan, besok minggu kakakku pulang dari Semarang.” Kata Fyna dengan sedikit ragu ia berkata, “Emm… kapan kamu mau mengutarakan perasaanmu ke kakakku”
Aku diam dalam pikiranku.
“kita kan udah dewasa, kita sudah kelas 2 MAN. Kakakku juga sudah kuliah semester 4. Mau menunggu apalagi. Kau sudah memendamnya sejak kamu datang di tempat ini kan???” tegas Fyna.
“aku gak tau. Aku juga gak yakin dia punya perasaan yang sama. Lagi pula mana mungkin perempuan duluan yang bilang perasaannya” Jawabku agak pelan.
“kita gak pernah tau kalo kamu gak bilang. Kamu satu-satunya perempuan yang dekat ma kakakku. Aku aja gak dekat. Ia begitu tertutup denganku. Tapi sama kamu beda. Ia peduli”. Tegas Fyna agak merayu. “ayolah…”
“nanti akan aku pikirkan lagi.” Jawabku sambil tersenyum.
 “Aku harap kamu punya keberanian itu, sebelum terlambat” kata Fyna.


Walaupun keluargaku tergolong agamis, tetapi dalam urusan pacaran tidak pernah ada larangan. Yang penting gak macem-macem. Pacaran yang sehat. Menurut pendapat ibuku.
Kata-kata Fyna sangat mengusikku, apalagi dia bilang ‘sebelum terlambat’. Aku tau di kampusnya sana pasti banyak perempuan yang cantik. Ah.. ku rasa itu yang membuat Fyna berkata seperti itu. Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan tenaga dan terus berpikir, mungkin benar aku harus segera mengatakannya. Sebelum ia terpikat dengan gadis-gadis dikampusnya itu.

Aku main ke rumah Fyna yang terletak pas didepan rumahku. Aku bilang kalau aku mau mengatakannya. Sudah lima tahun sejak aku kenal bahwa itu cinta. Aku merasakan itu kepada Faris. Sejak kepindahanku 11 tahun yang lalu, keluarga Fyna sangat baik dengan keluargaku hingga kini. Aku menyiapkan mental, jika saja Faris tak memiliki perasaan yang sama, hubungan keluarga kami harus tetap baik-baik saja.
            Hari itu akhirnya tiba, aku mematutkan diri sebaik mungkin. Fyna sudah mengatur semuanya agar kami bertemu. Rencananya, aku akan mengatakan perasaanku dilantai 2 rumah mereka dengan berlatar bulan dan bintang. Pasti indah dan berkesan, begitu menurut Fyna.

Malam ini benar indah. Seperti yang direncanakan. Mungkin karena ini musim kemarau. Bintang dilangit begitu genitnya berkedip kepadaku. Bulan yang pas pada purnama, semakin membuat indah lukisan malam. Indah. Semilir angin malam mendukung membuat mala mini sempurna romantis. hatiku tak karuan menunggu di balkon lantai dua rumah Fyna, sambil memandang taman. Tanganku menjadi dingin. Semakin lama semakin tak karuan rasa hatiku. Aku berdoa dalam hati, semoga malam itu berjalan lancar. “Please God” lirihku.
Sosok tubuh yang tak tinggi juga tak pendek itu berdiri disampingku. Tubuhnya tampak agak sedikit kurus. Ia juga tak segera mengeluarkan kata-kata. Kamimematung untuk beberapa menit. Aku yang sedang sibuk mengendalikan diri agar tak tampak duduk dihadapannya. Aku yang dari kemarin mengumpulkan tenaga untuk mengakatan ini seketika keberanian itu buyar, sedetik setelah ia berdiri tepat disampingku. Aku pun sibuk mengumpulkan tenaga itu kembali. Hatiku tak karuan. Hingga akhirnya, terdengar suara.
“bagaimana sekolahmu?” tanyanya ringan, seperti sebelum-sebelumnya.
“eh… em…. Baik” jawabku agak gelagapan.
“aku baru sadar, tempat ini indah kalau malam hari… apalagi bulan purnama itu” katanya sambil memandang langit.
“iya… tempat ini indah. Bagaimana kuliahnya?” tanyaku balik yang sudah agak tenang.
“lancar… semuanya baik. Bahkan aku merasa belakangan ini jauh lebih baik.” Jawabnya.
“ada sesuatu yang ingin aku katakan… tapi…” kataku agak ragu.
“katakanlah,” jawabnya tenang.
“aku… eh… em… apa… apa…” kataku gugup tak karuan. “aku suka sama kakak”. Kataku dengan seluruh tenagaku. Akupun menatapnya tajam. Dia dengan ekspresi tenang memandang ke langit. Mungkin sambil berpikir.
“maaf…” katanya sambil menatapku. “Maaf, kamu terlambat.” Katanya pelan.
Malu, sakit tetapi lega. Hatiku tak karuan rasanya.
“masa kecil itu, ah… aku merasa kita dekat karena kita senasib, kamu bias merasakan apa yang aku rasakan. Dan akupun bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Dulu, akupun menganggap ini cinta. Tapi… sekarang aku tau, ini hanya cinta monyet. Maaf.” Jelasnya membuat hatiku semakin tertusuk, ‘cinta monyet’. Ah… apa dia piker monyet punya cinta yang seperti yang ku rasakan???
“apakah ada wanita lain?” tanyaku memberanikan diri. Dia diam tertnduk. Lalu tersenyum.
“aku harap persahabatan kita tidak berakhir. Walau bagaimanapun, aku berterimakasih karena kau telah membuatku dekat dengan adikku. Ini untukmu. Mungkin berguna untuk tugas jurnalismu dan untuk hobimu” Katanya. Sambil memberiku kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado.
Sekuat tenaga aku menahan air mata yang tak sabar keluar dari mataku.
“semoga. Terimakasih” Kataku agak serak basah. “Aku pamit. Ada tugas jurnalistik yang harus aku kerjakan” kataku. Dengan berusaha setenang mungkin aku berjalan. Berbalik badan. Air mata tak kuasa terbendung. Meleleh. Aku berusaha berjalan senormal mungkin. Agar ia tak curiga bila aku menangis. Matanya masih membuntuti tubuh ku yang mulai menghilang turun dari tangga. Aku tau dan aku bias merasakan itu.


  Fyna yang menunggu di bawah tangga. Tak sabar ingin bertanya kepadaku. Tetapi setelah tau ekspresi ku turun dengan air mata itu. Itu sudah cukup menceritakan apa yang terjadi.
Ternyata tak semudah apa yang ku bayangkan. Malu. Seolah harga diriku dilucuti seketika oleha seorang bernama Faris. Ah… kenapa aku tak berpikir sejauh ini. Hatiku sakit bagai tersayat ratusan pedang. Ternayta selama ini dia dekat dengan ku karena kita senasib.
Mungkin sudah saatnya aku menceritakan hal ini. 11 tahun yang lalu. Awal aku pindah ke rumah baru di daerah Gemolong. Bapakku meninggal dunia karena kecelakaan tunggal saat beliau pulang kerja dari tempat kerjanya Departemen agama di Jakarta Selatan. Sebelum meninggal Bapak membuatkan kami rumah di desa tempatnya lahir. Saat itu awal aku menempati rumah, banyak tetangga yang memandang rendah keluarga kami. Begitulah kehidupan seorang janda di desa ini. Pilihan ibu yang membuat batinku menderita. Tetapi ada satu tetangga kami yang sangat baik hati. Yaitu keluarga Fyna. Ibunya juga janda, Fyna sama sekali tidak merasakan kasih sayang ayah, karena ayah Fyna meninggal saat Fyna berusia 10 bulan dan Faris berusia 3 tahun karena sakit liver. Kehidupan Fyna cukup baik, walaupun ibunya janda, tetapi ibunya dosen di IAIN Surakarta, sedangkan ayahnya mantan kepala desa. Hamper semua orang menghormati keluarga mereka.
Suatu kali Fyna bertengkar dengan Faris. Hubungan keduanya menjauh. Fyna satu kelas di TPA bersamaku. Sedangkan Faris adalah temannya temanku. Aku dekat dengan Fyna, juga dekat dengan Faris. Aku berinisiatif untuk mendekatkan mereka kembali. Faris mulai tertutup sejak ayahnya meninggal. Sebelum ayahnya meninggal Faris adalah anak yang ceria dan nakal. Pernah suatu kali, pembantu mereka di kencingi Faris dari balkon rumah dan membuat seluruh rumah geram. Fyna yang masih bayi hanya senyum-senyum melihat kenakalan kakaknya. Nasib kami yang sama, sama-sama kehilangan ayah.
Aku membuka kado yang Faris berikan dengan marah dan penasaran. Isinya buku. Yang satu berjudul, Izinkan aku menikah tanpa pacaran dan yang satunya lagi novel Ayat-Ayat Cinta.
Hatiku dan pikiranku mulai berkecamuk. Apa mungkin? Mungkinkah kerena ini dia menolakku. Ada sedikit cayaha di hati untuk memaafkannya. Namun semua terasa sakit. Apalagi jika aku tak memiliki kegiatan. Bayang-bayang dan perasaan itu kembali lagi. Aku putuskan untuk semakin menyibukan diriku.
Hampir setiap hari aku berangkat subuh dan pulang maghrib. Aku meminta tambahan tugas jurnalistik sekolah. Sekarang selain mengurus majalah, aku juga mengurus madding. Di majalah sekolah aku menjadi pimpinan redaksi, sedangkan di madding aku menjadi redaktur. Tiap hari senin rapat membahas konsep madding pecan depan dan kamis date line pengumpulan artikel, hari jum’at madding di desain, tapi ini hanya tugas illustrator. Hari sabtu redaksi memasang mading. Sedangkan Majalah agak santai karena hanya per semester. Selain itu aku ikut kerohanian islam. Setiap hari selasa ada kajian skala kecil, kadang hari rabu ada pembahasan bulletin yang dikeluarkan tiap bulan. Jika ada jadwal kosong sepulang sekolah, aku menyibukan diri membatu kegiatan ekskul lain. Sesampainya dirumah, aku sibukan diri mengerjakan PR, membaca pelajaran sekolah, mengerjakan tugas jurnalisku dan membantu ibuku yang berjualan kue untuk dititipkan dikantin sekolah dekat rumah.

Jika hari minggu tiba, aku sibuk membersihkan rumah sebersih mungkin. Kalau masih ada waktu luang, aku main ke rumah teman-teman SD ku. Bahkan setelah hari itu aku jarang melihat Faris pulang, padahal kata Fyna setiap 2 minggu sekali ia pulang. Intensitas kebersamaanku denga Fynapun mulai berkurang.
Hari itu turun hujan pertama setelah sekian panjang musim kemarau. Tugas majalahku yang telah disepakati waktu rapat adalah membuat bahasan utama tentang jilbab, mewawancarai Ustadz Habiburahmah sebagai tokoh, pilihan ini karena beliau penulis terkenal lulusan MAN 1 Surakarta, redaksi berharap sosoknya menjadi inspirasi siswa MAN 1 Surakarta. Tugas lainnya adalah menghandel kiriman-kiriman siswa MAN 1 Surakarta yang berupa cerpen, puisi, cergam. Dan menyiapkan rewardnya.
Kado dari Faris belum aku sentuh sama sekali. Aku melihatnya dari jendela kamar. Lamat-lamat aku melihat nama Habiburrahman El Shirazy di novel Ayat-Ayat Cinta. Mulai tertarik dan mendekat. Benar. Beliaulah yang harus aku wawancarai. Penasaran akan isi novel dan kebutuhan karena aku harus tau isi novel itu menggerakan tanganku untuk membukanya. Mataku mulai membaca halaman demi halaman novel itu. Novel yang menggugah jiwa. Terselip keinginan menjadi orang  seberuntung Aisyah. Aku merasa tersindir dengan kisahnya, dalam salah satu halaman beliau menuliskan, ‘wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik, dan lelaki baik-baik hanya untuk wanita baik-baik’. Apakah aku wanita baik-baik itu? Tanyaku dalam hati. Yang jelas sejak saat itu aku menemukan kehidupan baru.
Bahasan utama tentang jilbab telah usai aku tulis. Sekarang aku tau seberapa penting jilbab ini. Walaupun dari dulu aku berazam untuk berjilbab, tapi kali ini aku mendapatkan kemantapan hati tentang jilbab.
2 orang redaksi majalah berangkat ke rumah ustadz Habiburrahman di Salatiga. Ternyata beliau sangat ramah. Banyak ilmu yang didapat dari beliau, dan setelah dari sana ada sebuah kemantapan hati untuk tidak akan berpacaran, kalau perlu tidak jatuh cinta dengan orang selain yang halal bagi ku. Ah… Allah benar-benar sempurna merencanakan ini untukku. Perlahan tetapi pasti, hatiku telah menjadi milikku kembali. Rasa cinta ataupun sakit hati itu hilang. Majalahpun terbit tepat waktu. Untuk kakak kelas 3 majalah ini menjadi kenang-kenangan kelulusan semua berjalan lancar. Dan sekarang, aku pun menggantikan posisi kakak-kakak kelas 3 yang telah lulus.


            Ini saatnya berjibaku untuk mendapatkan kelulusan yang sempurna. Kegiatan jurnalistik mulai ditinggalkan, paling hanya sekedar member saran dan mengarahkan adik-adik. Kegiatan kajian rohisku masih berjalan lancar, justru jalan beriringan dengan pelajaran sekolah. Di kelas aku mengisi nutrisi otak, di Rohis aku mengisi nutrisi iman. Aku merasa semakin baik. Aku mendapatkan komunitas yang membuatku menjadi lebih baik.
Apa kabar Faris saat ini???? Terselip sedikit pertanyaan dibenakku
Fyna bercerita Minggu kemari Faris membawa seorang wanita ke rumah. Ah… ku kira dulu ia menolakku karena prinsip seperti prinsipku, ternyata dia sudah memiliki wanita lain. Sudahlah… bukan urusanku lagi.
            Akhirnya saat itu tiba, pengumuman kelulusan tiba. Aku diterima jalur SM UNY fakultas pendidikan matematika. Nilai kelulusankupun menakjubkan, aku lulus dengan nilai tertinggi di sekolah dan di provinsi. Akhirnya aku bisa membuktikan bahwa aku berharga, setidaknya dimata tetanggaku. Keluargaku mulai dipandang.
Setidaknya aku harus mengucapkan terimakasih kepada Faris, karena dia menolakku waktu itu, aku move on. Dan menjadi aku yang lebih baik.
Detik-detik keberangkatanku ke kota pendidikan, sms masuk di hp ku.
"Nan, maafkan semua kesalahanku. Maaf karena dulu aku menolakmu. Sekarang aku sadar kamulah yang terbaik dan bisa menerimaku apa adanya. Nan, maukah kamu mengisi hatiku kembali????"
Terpikir dalam otakku, apa yang terjadi dengan Faris???? Kemana wanita yang membuatnya menolakku waktu itu??? Ah itu bukan urusanku lagi. Toh aku sudah berazam untuk tidak pacaran dan menjadikan diriku ‘wanita baik-baik’ itu. Tuts demi tuts hp aku pencet membalas sms Faris.

Aku sudah memaafkan semua itu. Dan terimakasih karena kamu, aku sekarang menjadi lebih baik lagi. Dan maaf aku telah berazam untuk tidak pacaran sebelum ada yang halal bagiku. Maaf. Hiduplah dengan lebih baik lagi. :-)

cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat kejadian itu disengaja oleh penulis :D
penulis belum mendapatkan judul yang pas untuk cerpen ini, jika ada yang mau membantu mencarikan judul bisa komen dibawah. gamsahamnida... ^_^
Gemolong, 22 Desember 2012
Sumber
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Tamu Harap ninggalin jejak

 
Support : Creating Website | Harun Korniawan | Ha-Ka
powered by Blogger
Copyright © 2013. KaiZen Design - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template